Selasa, 23 November 2010

ASKEP DIC

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
DIC adalah efek dalam koagulasi yang ditandai dengan perdarahan dan koagulasi simultan. DIC adalah hasil stimulasi abnormal dari proses koagulasi normal sehingga selanjutnya terbentuk trombi mikrovaskular yang tersebar luas dan kehabisan faktor pembekuan. Sindrom ini dipicu oleh berbagai penyakit seperti sepsis, trauma multipel, luka bakar, dan neoplasma. DIC dapat dijelaskan sebagai dua proses koagulasi yang terkendali dengan tepat yang menjadi terakselerasi dan tidak terkendali.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah penyakit DIC ?
2. Apakah gejala-gejala DIC ?
3. Bagaimanakah penatalaksanaan keperawatan DIC ?

C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui penyakit DIC.
2. Mengetahui penyebab penyakit DIC.
3. Mengetahui penatalaksanaan penyakit DIC.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Definisi DIC
Koagulasi intravaskuler yang menyebar (DIC), juga dikenal sebagai koagulopati konsumtif, adalah patologis aktivasi koagulasi (pembekuan darah) mekanisme yang terjadi dalam menanggapi berbagai penyakit. LPS mengarah pada pembentukan bekuan darah kecil di dalam pembuluh darah ke seluruh tubuh. Sebagai gumpalan kecil mengkonsumsi protein koagulasi dan trombosit, koagulasi normal terganggu dan abnormal pendarahan terjadi dari kulit (misalnya dari situs di mana contoh darah diambil ), yang saluran pencernaan , dengan saluran pernafasan dan luka bedah. Gumpalan kecil juga mengganggu aliran darah normal ke organ (seperti ginjal), yang dapat berfungsi sebagai hasilnya.
DIC dapat terjadi secara akut tetapi juga pada kronis, secara lebih lambat, tergantung pada masalah mendasar. Hal ini umum dalam sakit kritis, dan dapat berpartisipasi dalam pengembangan kegagalan organ multiple, yang dapat mengakibatkan kematian.

B. Etiologi
Penyebab paling umum adalah sepsis, yang merupakan peradangan besar di seluruh tubuh karena adanya etiologi menular. Penyebab umum lainnya termasuk trauma dan kerusakan jaringan, serta keganasan. Kandungan menyebabkan juga dapat menyebabkan DIC.

C. Patofisiolgis
Koagulasi intravaskular diseminata (disseminated intravascular coagulation, DIC) adalah efek dalam koagulasi yang ditandai dengan perdarahan dan koagulasi simultan. DIC adalah hasil stimulasi abnormal dari proses koagulasi normal sehingga selanjutnya terbentuk trombi mikrovaskular yang tersebuar luas dan kehabisan faktor pembekuan. Sindrom ini dipicu oleh berbagai penyakit seperti sepsis, trauma multipel, luka bakar, dan neoplasma. DIC dapat dijelaskan sebagai dua proses koagulasi yang terkendali dengan tepat yang menjadi terakselerasi dan tidak terkendali. Pada mulanya, cedera pada jaringan yang disebabkan oleh penyakit primer (mis, infeksi atau trauma) mengaktifkan mekanisme yang membebaskan trombin, yang diperlukan untuk pembentukan fibrin pembekuan, ke dalam sirkulasi. Trombin juga mengaktifkan proses yang diperlukan untuk perombakan fibrin dan fibrinogen sehingga terbentuk fibrin dan prduk degradasi fibrinogen (fibrinogen degradation products, FDP). FDP dalam sirkulasi bekerja sebagai antikoagulan. DIC ditandai dengan tiga gejala utama berikut : (1) perdarahan umum ; (2) iskemia yang disebabkan oleh trombi, perubahan hemodinamik, dan kekacauan metablik, yang turut berperan terhadap terjadinya gagal multiorgan, dan (3) anemia. Prognosis bergantung pada berbagai faktor yang mencakup beratnya kondisi primer dan sekunder.

D. Manifestasi Klinis
1. Perdarahan spontan
2. Hipoksia
3. Rembesan pada kulit
4. Petekie
5. Ekimosis
6. Nyeri
7. Gejala berdasarkan berat dan luasnya keterlibatan organ
a. Ginjal, Oliguria, anuria
b. Sistem saraf pusat : perubahan status mental
c. Kulit : berbintik, lesi nekrotik ; sianosis.

E. Prosedur Diagnostik
1. Insidens pastinya tidak diketahui.
2. DIC terjadi baik pada anak-anak maupun orang dewasa.
3. DIC terjadi karena cedera atau penyakit yang mendasarinya.
4. Angka mortalitasnya tinggi.

F. Penatalaksanaan Keperawatan
Fokus utama dalam penatalaksanaan medis DIC adalah mengatasi penyakit primer atau cedera yang mengawali koagulopati. Dengan mengatasi masalah yang mendasari, DIC dapat dikendalikan sehingga koagulasi normal dapat pulih kembali. Pengobatan terhadap infeksi, syok, asidosis, dan hipoksia harus dijadikan prioritas. Terapi penggantian cairan dengan kristaloid sangat penting dilakukan dalam tahap awal syok. Meskipun terapi penggantian darah dengan darah engkap,kriopresipitat, sel darah merah, plasma beku segar, dan trombosit sering kali diperlukan, tetapi hal ini tetap saja berisiko, karena produk-produk ini dapat meningkatkan proses pembekuan. Terapi heparin telah dianjurkan karena heparin mengganggu proses koagulasi dan melawan produk trombin. Namun, terapi ini masih sangat kontroversial dan dapat meningkatkan perdarahan. Secara keseluruhan, terapi harus disesuaikan dengan data klinis dan data laboratorium yang ada.
1. Diagnosa Keperawatan
- Resiko defisiti volume cairan
- Ketidakefektifan perfusi jaringan
- Gangguan pertukaran gas
- Nyeri
- Risiko kerusakan integritas kulit
- Risiko cedera
- Risiko infeksi
- Ansietas.
2. Intervensi
a. Pantau status klinis ; laporkan setiap perubahan yang bermakna.
- Pantau adanya tanda-tanda hemoragi-perdarahan, petekei, rembesan kutaneun, dispnea, letargi, pucat, peningkatan denyut apikal, penurunan tekanan darah, sakit kepala, pusing, kelemahan otot, gelisah.
- Pantau adanya tanda-tanda iskemia – perubahan tingkat kesadaran, penurunan haluaran urine, perubahan pada EKG, ekstremitas gangren, kulit berbercak, lesi kulit nekrotik, gagal napas.
b. Kendalikan perdarahan
- Jangan mengganggu bekuan.
- Gunakan tekanan untuk mengendalikan perdarahan bila mungkin.
- Berikan produk darah dengan aman
- Pantau perdarahan secara ketat-inspeksi kulit dengan cermat.
- Ukur kehilangan darah
- Pantau data laboratorium
- Uji haluaran urine terhadap perdarahan nyata dan samar
c. Tingkatkan okseigenasi yang adekuat
- Posisikan anak agar ventilasinya efektif.
- Berikan oksigen dan pantau responsinya.
- Lakukan pengkajian pernapasan dengan sering.
- Kurangi kebutuha oksigen.
- Kendalikan stimulus dari lingkungan.
d. Lakukan tindakan untuk mengatasi atau mengendalikan nyeri.
- Imobilisasi sendi.
- Beri kompres hangat atau dingin.
- Gunakan tempat tidur ayun.
- Gunakan kasur udara
- Ubah posisi anak dengan sering
- Berikan perawatan mulut dan kulit
- Gunakan skala nyeri untuk mengkaji derajat nyeri.
- Berikan obat antinyeri.
e. Pantau respons terapeutik dan respons yang tidak diinginkan terhadap pemberian produk darah.
- Trombosit untuk mengurangi perdarahan, mengoreksi hitung trombosit rendah.
- Plasma beku segar untuk mengoreksi defisiensi fibrinogen, protrombin, faktor II, faktor VIII, dan defisiensi faktor lain.
- Darah segara lengkap dan PRC untuk mempertahankan hematokrot.
f. Pantau respons terapeutik anak dan respons yang tidak diinginkan terhadap pemberian heparin.
g. Beri dukungan bagi pasien dan keluarganya.
- Identifikasi adanya defisit pengetahuan.
- Berikan informasi yang akurat.
- Berikan jawaban jujur dengan istilah yang jelas dan singkat.
- Pilih perawat yang konsisten.


BAB III
KESIMPULAN

DIC adalah efek dalam koagulasi yang ditandai dengan perdarahan dan koagulasi simultan. DIC adalah hasil stimulasi abnormal dari proses koagulasi normal sehingga selanjutnya terbentuk trombi mikrovaskular yang tersebar luas dan kehabisan faktor pembekuan. Sindrom ini dipicu oleh berbagai penyakit seperti sepsis, trauma multipel, luka bakar, dan neoplasma. DIC dapat dijelaskan sebagai dua proses koagulasi yang terkendali dengan tepat yang menjadi terakselerasi dan tidak terkendali

Tidak ada komentar:

Posting Komentar